DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................................... i
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2. Tujuan.............................................................................................................. 1
II. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Safonifikasi.................................................................................... 2
III. BAHAN
DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat........................................................................................... 3
3.2. Bahan
dan Alat.......................................................................................... ....... 3
3.3.
Prosedur Percobaan................................................................................... ....... 3
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Pengamatan...................................................................................... ....... 4
4.2.
Pembahasan............................................................................................... ....... 4
V. PENUTUP
5.1.
Kesimpulan....................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA
LAPORAN
PRAKTIKUM
BIOKIMIA
“
PENGUJIAN ANGKA SAFONIFIKASI ”

EFRIDA
NATALIA SINAGA
CAA
112 005
LABORATORIUM
BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
PALANGKA RAYA


![]() |
I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Lipid merupakan senyawa organik
berlemak atau berminyak yang tidak larut dalam air yang dapat diekstrak daei
sel atau jaringan tumbuhan dan hewan dengan menggunakan larutan non polar
seperti kloroform dan eter. Lipid terdapat disemua bagian tubuh manusia terutama
otak, memiliki peranan penting dalam proses penting dalam metabolisme secara
umum. Beberapa kelas lipid antara lain lemak dan minyak, terpena, steroid, dan
beberapa senyawa penting lainnya. Lemak dan minyak merupakan suatu
trigliserida.
Pada suhu kamar lemak berwujud padat
dan minyak berupa cairan. Sebagian besar gliserida pada hewan berupa lemak dan
pada tumbuhan cenderung berupa minyak. Analisis lemak dan minyak yang umum
dilakukan pada bahan makanan dapat digolongkan menjadi beberapa yaitu penuntun
kuntitatif atau penentuan kadar lemak atau minyak yang terdapat pada bahan
pertanian dan olahannya. Penentuan kualitas minyak sebagai bahan makanan yang
berkaitan dengan proses ekstrasinya, penentuan tingkat minyak ini sangat
berhubungan erat dengan kekuatan daya simpannya, sifat gorengnya, maupun
rasanya. Tolak ukur kualitasnya ini termasuk angka asam lemak bebas, bilangan
peroksida, tingkat ketengikan, kadar air, dan angka penyabunan.
1.2. Tujuan
Adapun
tujuan praktikum ini adalah untuk menentukan berat molekul minyak dan lemak
secara kasar.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian safonifikasi
Istilah
saponifikasi dalam literatur berarti “soap making”. Akar kata “sapo” dalam bahasa
Latin yang artinya soap/sabun. Pengertian Saponifikasi (saponification) adalah
reaksi yang terjadi ketika minyak/lemak dicampur dengan larutan alkali. Ada dua
produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan Gliserin.
Angka
penyabunan menunjukan berat molekul lemak dan miyak secara kasar. Miyak yang disusun
oleh asam lemak berantai karbon yang pendek mempunyai berat molekul yang
relative kecil, maka akan mempunyai angka penyabunan yang besar. Dan
sebaliknya, bila mempunyai berat molekul yang besar, maka angka penyabunan relative kecil. Angka penyabunan dinyatakan
sebagai banyaknya (gram) NaOH atau KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram
lemak atau minyak.
Alkohol yang ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil
hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga membentuk sabun. Penentuan bilangan penyabunan dilakukan untuk mengetahi sifat minyak dan lemak.
Pengujian sifat ini dapat digunakan untuk membedakan lemak yang satu
dengan yang lainnya. Angka penyabunan dapat juga
digunakan untuk menentukan berat molekul dari suatu lemak atau minyak.
III.
BAHAN DAN METODE
3.1.
Waktu dan tempat
Kegiatan
praktikum tentang enzim ini dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Desember 2013 pukul
13.00-14.30 WIB di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka
Raya.
3.2.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum
kali ini adalah minyak, KOH 0,5 N alkoholik, HCL 0,5 N, dan indikator PP.
Sedangkan alat yang digunakan yaitu, erlenmeyer, biuret, pipet tetes, lampu
bunsen, timbangan analitik, dan kaki tiga.
3.3.
Prosedur Percobaan
Ø Menimbang
minyak sebanyak 5 gram dalam erlenmeyer
Ø Kemudian
menambahkan 50 ml KOH 0,5 N alkoholik
Ø Menutup
dengan pendingin, dan di didihkan sampai minyak tersabunkan secara sempurna
ditandai dengan tidak terlihat butir-butir lemak atau minyak dalam larutan
Ø Setelah
dingin kemudian menitrasinya dengan HCl 0,5 dengan menggunakan indikator PP
Ø Mengamati
percobaan yang terjadi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil Pengamatan
Adapun
hasil pengamatan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
Tabel Hasil Pengamatan Pengujian Angka Saponifikasi
|
Berat contoh
|
Hasil pengamatan
|
||
|
KOH 50 ml
|
Indikator PP
3 tetes
|
HCL
|
|
|
Minyak goreng 5 gram
|
Larutan minyak berubah menjadi keruh, selama pemansan
butir-butir minyak terdapat pada permukaan sehingga terdapat 2 lapisan,
lapisan atas berupa minyak kuning bening, lapisan bawah berwarna putih keruh
|
Larutan berubah warna menjadi merah muda
|
Jumlah larutan HCL yang digunakan untuk titrasi tiga
sampel yaitu
· 35,5 ml
· 25 ml
·
|
4.2.
Pembahasan
Pada
praktikum pengujian angka safonifikasi, hal pertama yang dilakukan adalah
menimbang minyak goreng seberat 5 gram. Kemudian ditambahkan dengan 50 ml
larutan KOH 0,5 N, larutan minyak yang semula berwarna kuning bening berubah
warna menjadi putih susu. Lalu campuran 5 gram larutan minyak goreng ditambah
dengan 50 ml KOH 0,5 N dan dipanaskan diatas lampu bunsen hingga mendidih.
Selama pemanasan, butir-butir minyak terlihat pada permukaan larutan berupa
buih. Perlahan-lahan buih-buih minyak yang terlihat pada permukaan larutan
mulai menghilang dan larutan yang berwarna putih susu menjadi keruh. Setelah
dingin larutan terdiri atas dua lapisan, lapisan atas berupa minyak yang
berwarna kuning bening, sedangkan lapisan atas berwarna putih keruh.
Setelah
itu, larutan tersebut diteteskan dengan larutan indikator PP sebanyak tiga
tetes sehingga larutan berubah warna menjadi merah muda. Kemudian dititrasi
dengan larutan HCL 0,5 N dengan perbandingan pada setiap sampel sebanyak 35,5 ml dan 25 ml sehingga larutan
berubah warna kembali menjadi keruh dan minyak menggumpal dipermukaan. Adapun penghitungan
angka penyabunan dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
Angka Penyabunan = 
= 
= 
= 58,8
V. PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Saponifikasi
adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan larutan
alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan
Gliserin. Angka penyabunan dinyatakan sebagai banyaknya (gram) NaOH atauK OH yang
dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Alkohol yang ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan asam
lemak hasil hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga membentuk
sabun.
DAFTAR
PUSTAKA
http://cheryblitz.wordpress.com/2011/12/13/bilangan saponifikasi angka penyabunan
http://wikipedia.org//wiki safonifikasi diakses pada tanggal
22 desmber 2013
![]() |
||

Tidak ada komentar:
Posting Komentar