Selasa, 29 April 2014

PRAKTIKUM BIOKIMIA SAFONIFIKASI




DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................... i

I. PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2.  Tujuan.............................................................................................................. 1

II. PEMBAHASAN
2.1.  Pengertian Safonifikasi.................................................................................... 2

III. BAHAN DAN METODE
3.1.  Waktu dan Tempat........................................................................................... 3
3.2. Bahan dan Alat.......................................................................................... ....... 3
3.3. Prosedur Percobaan................................................................................... ....... 3

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan...................................................................................... ....... 4
4.2. Pembahasan............................................................................................... ....... 4

V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan....................................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA







LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA

“ PENGUJIAN ANGKA SAFONIFIKASI ”

HUKUM UNPAR.jpg



EFRIDA NATALIA SINAGA
CAA 112 005






LABORATORIUM BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2013


 


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Lipid merupakan senyawa organik berlemak atau berminyak yang tidak larut dalam air yang dapat diekstrak daei sel atau jaringan tumbuhan dan hewan dengan menggunakan larutan non polar seperti kloroform dan eter. Lipid terdapat disemua bagian tubuh manusia terutama otak, memiliki peranan penting dalam proses penting dalam metabolisme secara umum. Beberapa kelas lipid antara lain lemak dan minyak, terpena, steroid, dan beberapa senyawa penting lainnya. Lemak dan minyak merupakan suatu trigliserida.
Pada suhu kamar lemak berwujud padat dan minyak berupa cairan. Sebagian besar gliserida pada hewan berupa lemak dan pada tumbuhan cenderung berupa minyak. Analisis lemak dan minyak yang umum dilakukan pada bahan makanan dapat digolongkan menjadi beberapa yaitu penuntun kuntitatif atau penentuan kadar lemak atau minyak yang terdapat pada bahan pertanian dan olahannya. Penentuan kualitas minyak sebagai bahan makanan yang berkaitan dengan proses ekstrasinya, penentuan tingkat minyak ini sangat berhubungan erat dengan kekuatan daya simpannya, sifat gorengnya, maupun rasanya. Tolak ukur kualitasnya ini termasuk angka asam lemak bebas, bilangan peroksida, tingkat ketengikan, kadar air, dan angka penyabunan.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk menentukan berat molekul minyak dan lemak secara kasar.







II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian safonifikasi
Istilah saponifikasi dalam literatur berarti “soap making”. Akar kata “sapo” dalam bahasa Latin yang artinya soap/sabun. Pengertian Saponifikasi (saponification) adalah reaksi yang terjadi ketika minyak/lemak dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan Gliserin.
Angka penyabunan menunjukan berat molekul lemak dan miyak secara kasar. Miyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek mempunyai berat molekul yang relative kecil, maka akan mempunyai angka penyabunan yang besar. Dan sebaliknya, bila mempunyai berat molekul yang besar, maka angka penyabunan  relative kecil. Angka penyabunan dinyatakan sebagai banyaknya (gram) NaOH atau KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak.
Alkohol yang ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga membentuk sabun. Penentuan bilangan penyabunan dilakukan untuk  mengetahi sifat minyak dan lemak. Pengujian sifat ini dapat digunakan untuk membedakan lemak yang satu dengan yang lainnya. Angka penyabunan dapat juga digunakan untuk menentukan berat molekul dari suatu lemak atau minyak.


III. BAHAN DAN METODE
3.1. Waktu dan tempat
Kegiatan praktikum tentang enzim ini dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Desember 2013 pukul 13.00-14.30 WIB di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya.

3.2. Bahan dan Alat
            Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah minyak, KOH 0,5 N alkoholik, HCL 0,5 N, dan indikator PP. Sedangkan alat yang digunakan yaitu, erlenmeyer, biuret, pipet tetes, lampu bunsen, timbangan analitik, dan kaki tiga.

3.3. Prosedur Percobaan
Ø  Menimbang minyak sebanyak 5 gram dalam erlenmeyer
Ø  Kemudian menambahkan 50 ml KOH 0,5 N alkoholik
Ø  Menutup dengan pendingin, dan di didihkan sampai minyak tersabunkan secara sempurna ditandai dengan tidak terlihat butir-butir lemak atau minyak dalam larutan
Ø  Setelah dingin kemudian menitrasinya dengan HCl 0,5 dengan menggunakan indikator PP
Ø  Mengamati percobaan yang terjadi


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
Tabel Hasil Pengamatan Pengujian Angka Saponifikasi
Berat contoh
Hasil pengamatan
KOH 50 ml
Indikator PP
3 tetes
HCL
Minyak goreng 5 gram
Larutan minyak berubah menjadi keruh, selama pemansan butir-butir minyak terdapat pada permukaan sehingga terdapat 2 lapisan, lapisan atas berupa minyak kuning bening, lapisan bawah berwarna putih keruh
Larutan berubah warna menjadi merah muda
Jumlah larutan HCL yang digunakan untuk titrasi tiga sampel yaitu
·       35,5 ml
·       25  ml
·      

4.2. Pembahasan
            Pada praktikum pengujian angka safonifikasi, hal pertama yang dilakukan adalah menimbang minyak goreng seberat 5 gram. Kemudian ditambahkan dengan 50 ml larutan KOH 0,5 N, larutan minyak yang semula berwarna kuning bening berubah warna menjadi putih susu. Lalu campuran 5 gram larutan minyak goreng ditambah dengan 50 ml KOH 0,5 N dan dipanaskan diatas lampu bunsen hingga mendidih. Selama pemanasan, butir-butir minyak terlihat pada permukaan larutan berupa buih. Perlahan-lahan buih-buih minyak yang terlihat pada permukaan larutan mulai menghilang dan larutan yang berwarna putih susu menjadi keruh. Setelah dingin larutan terdiri atas dua lapisan, lapisan atas berupa minyak yang berwarna kuning bening, sedangkan lapisan atas berwarna putih keruh.
            Setelah itu, larutan tersebut diteteskan dengan larutan indikator PP sebanyak tiga tetes sehingga larutan berubah warna menjadi merah muda. Kemudian dititrasi dengan larutan HCL 0,5 N dengan perbandingan pada setiap sampel  sebanyak 35,5 ml dan 25 ml sehingga larutan berubah warna kembali menjadi keruh dan minyak menggumpal dipermukaan. Adapun penghitungan angka penyabunan dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
Angka Penyabunan =  
=
=
= 58,8


V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan Gliserin. Angka penyabunan dinyatakan sebagai banyaknya (gram) NaOH atauK OH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Alkohol yang ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga membentuk sabun.


DAFTAR PUSTAKA
http://wikipedia.org//wiki safonifikasi diakses pada tanggal 22 desmber 2013








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar