Selasa, 29 April 2014

LAPORAN PRAKTIKUM DASLINTAN MENGENAL ORDO SERANGGA

I. PENDAHULUAN
1.1. Dasar Teori
Hama merupakan semua organisme atau binatang yang  karena aktivitas hidupnya merusak tanaman sehingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi manusia. Penggolongan hama dapat dibedakan berdasarkan kelas, filum, dan ordo. Berdasarkan filumnya, filum yang berpotensi sebagai hama tanaman terdiri dari empat filum yaitu, filum aschelminthes yang merupakan filum yang banyak dikenal berperan sebagai hama tanaman (bersifat parasit) yaitu nematoda. Namun, tidak semua anggota klas nematoda bertindak sebagai hama, sebab ada di antaranya yang berperan sebagai nematoda saprofag dan nematoda predator (pemangsa). Filum mollusca, dari filum ini anggotanya yang dapat berperan sebagai hama adalah dari klas gastropoda, salah satu jenisnya adalah bekicot dan keong emas. Filum chordata, anggota dari filum ini terdiri dari klas mammalia, yaitu keluarga bajing dan tikus, sedangkan filum arthropoda merupakan filum yang beranggota dari klas Arachnida (tunggau) dan klas Insecta atau serangga. (Tim opt, penuntun praktikum organisme pengganggu tumbuhan, Fakultas pertanian Unpar (Palangka raya.2013).
Jika dilihat dari kerusakan yang ditimbulkan, spesies yang bertindak sebagai hama terdiri dari enam ordo yaitu :
1)   Ordo Orthoptera
Orthoptera berasal dari kata orthos (lurus) dan pteron (sayap). Golongan serangga ini sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator. Sewaktu istirahat sayap bagian belakangnya dilipat secara lurus dibawah sayap depan. Sayap depan mempunyai ukuran lebih sempit dari pada ukuran sayap belakang. Misalnya belalang kayu (Valanga nigricornis).
2)   Ordo Hemiptera
Hemiptera berasal dari kata Hemi (setengah) dan pteron (sayap). Beberapa jenis serangga dari ordo ini pemakan tumbuhan dan adapula sebagai predator yang mengisap tubuh serangga lain dan golongan serangga ini mempunyai ukuran tubuh yang besar serta sayap depannya mengalami modifikasi, yaitu setengah didaerah pangkal menebal, sebagiannya mirip selaput, dan sayap belakang seperti selaput tipis. Misalnya walang sangit (Leptocorisa acuta).
3)   Ordo Homoptera
Homoptera berasal dari kata Homo (sama) dan pteron (sayap). Serangga golongan ini mempunyai sayap depan bertekstur homogen. Sebagian dari serangga ini mempunyai dua bentuk, yaitu serangga bersayap dan tidak bersayap. Misalnya kutu daun (Mycus persicae).
4)   Ordo Lepidoptera
Lepidoptera berasal dari kata lepidos (sisik) dan pteron (sayap). Larva sangat berpotensi sebagai  hama tanaman, sedangkan imagonya (kupu-kupu dan ngengat) hanya mengisap madu dari tanaman jenis bunga-bungaan. Sepasang sayapnya mirip membran yang dipenuhi sisik yang merupakan modifikasi dari rambut. Misalnya ngengat atau imago (Plutella xylostella).
5)   Ordo Coeleptera
Coeleptera berasal dari kata Coleos (seludang) dan pteron (sayap). Tipe serangga ini memiliki sayap depan yang mengeras  dan tebal seperti seludang berfungsi untuk menutup sayap belakang dan bagian tubuh. Sayap bagian belakang mempunyai struktur yang tipis. Anggota-anggotanya sebagian sebagai pengganggu tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai pemangsa serangga jenis yang berbeda.Misalnya kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros).
6)   Ordo Diptera
Diptera berasal dari kata Di (dua) dan pteron (sayap). artinya merupakan bangsa lalat, nyamuk meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedangkan sayap belakang telah berubah menjadi halter yang multi fungsi sebagai alat keseimbangan, untuk mengetahui arah angin, dan alat pendengaran. Misalnya lalat buah (Dacus. sp) (Rioardi, 2009).
Selama perkembangan tubuhnya, hama serangga tanaman ini mengalami perubahan-perubahan yang nyata. Perubahan ini dibedakan menjadi dua, yaitu perkembangan paurometabola dan holometabola. Serangga yang termasuk alam tipe ini yaitu ordo orthoptera, hemiptera, dan homoptera. Pada tipe perkembangan paurometabola mengalami tiga tahap pertumbuhan pada siklus hidupnya, yaitu stadia telur, nimfa (serangga pradewasa) dan imago. Nimfa dan imago memiliki tipe alat mulut dan jenis makanan yang sama, bentuk nimfa menyerupai induknya hanya ukurannya lebih kecil, belum bersayap, dan belum memiliki alat kelamin. Serangga pradewasa mengalami beberapa kali pergantian kulit, diikuti pertumbuhan tubuh dan sayap secara bertahap. Sedangkan perkembangan pada holometabola memiliki empat tahap selama siklus hidupnya, yaitu telur, larva serangga pradewasa, (ulat), pupa (kepompong), dan imago. Larva merupakan fase yang aktif makan, sedangkan pupa merupakan bentuk peralihan yang dicirikan dengan terjadinya perombakan dan penyususunan kembali alat-alat tubuh bagian dalam dan luar. Serangga yang memiliki perkembangan holometabola yaitu ordo lepidoptera, ordo coleoptera, ordo hymenoptera (Hartati, 2009).
Jenis kerusakan pada tanaman oleh serangga hama sangat erat kaitannya dengan tipe alat mulut dari serangga hama itu sendiri. Ada beberapa tipe alat mulut serangga yaitu, tipe alat mulut menggigit-mengunyah, tipe alat mulut menusuk menghisap, tipe alat mulut meraut menghisap, tipe alat mulut mengait-mengisap, dan tipe alat mulut menjilat menghisap (Yoga Permana, 2012).

1.2.  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum mengenal ordo serangga adalah untuk mengetahui perbedaan ke enam ordo serangga hama tanaman serta mengetahui lebih jelas perbedaan masing-masing bagian tubuh serangga (kepala, dada, sayap, perut, dan kaki), sehingga memudahkan pengklasifikasian/identifikasi ke enam ordo serangga hama tanaman.





II. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan Waktu
Kegiatan praktikum Mengenal Ordo Serangga  ini dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya pada hari Sabtu, 12 April 2014 pukul 13.00-14.45 WIB.

3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah lalat buah(Dacus .sp), belalang kayu (Valenga nigricorius), jangkrik (Gryllus asimilis), larva/uret kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros), kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros), walang sangit (Leptocorisa acuta), kepik, kutu daun (Mycus percisae), dan ngengat (Plutella xylostella). Sedangkan alat yang digunakan adalah lup, alat gambar, dan alat tulis lainnya.

3.3. Cara Kerja
a)    Mengamati masing-masing serangga yang telah disiapkan.
b)    Kemudian mencatat ordo serangga, tipe perkembangan, bentuk sayap, tipe alat mulut, dan bagian-bagian tanaman yang diserang pada masing-masing serangga serta memfoto serangga yang diamati.
c)    Setelah itu menggambar serangga keseluruhan dengan masing masing bagian tubuh serang, dari kepala, dada, sayap, perut, dan kaki.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan mengenal gejala penyakit tumbuhan yang telah dilakukan, dapat disajikan pada tabel dibawah ini :

Tabel. 1 Hasil Pengamatan Mengenal Ordo Serangga

No

Nama
Serangga

Ordo Serangga

Tipe Perkembangan

Bentuk
Sayap

Tipe Alat Mulut
Bagian
Tanaman Yang Diserang
1
Kumbang kelapa
Coloeptera
paurometabola
Bersayap seludang pada bagian depan, bagian belakang seperti selaput
Menggigit menguyah
Akar
Pangkal batang
2
Belalang kayu
Orthoptera
paurometabola
lurus
Menggigit menguyah
daun
3
Kepik
Hemiptera
paurometabola
Bagian depan mengalami penebalan
Menusuk mengisap
daun
4
Kutu daun
Homoptera
paurometabola
sama
Menusuk mengisap
daun
5
Lalat buah
Diptera
holometabola
Bersayap dua
menjilat
buah
6
Jangkrik
Orthoptera
paurometabola
lurus
Menggigit menguyah
Batang muda
7
Walang sangit
Hemiptera
paurometabola
Bersayap seludang pada bagian depan, bagian belakang seperti selaput
Menusuk mengisap
Daun
8
Larva/uret
Kumbang kelapa
Coloeptera
holometabola
lurus
Menggigit menguyah
Akar
Pangkal batang
9
Larva
(Plutella xylostella)
Lepidoptera
Holometabola
-
Menggigit Mengunyah
Daun
10
Ngengat
(imago)

(Plutella xylostella)
Lepidoptera
Holometabola
Sisik-sisik kecil
Mengisap menusuk
Bunga
3.2. Pembahasan
1)     
Sayap seludang
Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros)
Perut
Kaki
Kepala
Mulut
Gambar 1. Kumbang kelapa dan bagian-bagiannya
Sumber. Dokumentasi pribadi

Kumbang kelapa memiliki warna yang gelap. Kumbang ini sering menyerang tanaman kelapa yang masih muda maupun yang sudah dewasa. Kumbang kelapa memiliki dua pasang sayap. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra. Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan. Tipe mulutnya larva dan imagonya sama-sama menggigit dan menguyah. Dan merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yang melewati stadia telur-larva-kepompong (pupa)-imago (dewasa). Adapun cara untuk mengendalikan hama ini adalah dengan menebang, membakar, atau membelah pohon-pohon kelapa yang mati, sarang-sarangnya dibakar, pelepah daun kelapa dibersihkan setiap menurunkan buah, kumbang yang ditemukan dibunuh atau dicungkil keluar dari lubangnya.
Penggunaan kelapa mati yang dibiarkan tegak merupakan cara yang cukup efektif untuk pengendalian hama ini. Pengendalian dengan sistem ini dapat dilakukan bersama-sama dengan pengendalian lain, yaitu dengan cendawan Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes, sehingga larva yang berada dalam tegakan tersebut akan terinfeksi oleh cendawan ataupun virus.


2)     
Kaki
Belalang kayu (Valanga nigricornis)
Antena
Sayap
Torak
Abdomen
Kepala
                         

Gambar 2. Belalang Kayu dan Bagian-bagiannya
Sumber : wikipedia

Sayap
Tubuh belalang terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, dada (thorax) dan perut (abdomen). Belalang juga memiliki 6 enam kaki bersendi, 2 pasang sayap, dan 2 antena. Kaki belakang yang panjang digunakan untuk melompat sedangkan kaki depan yang pendek digunakan untuk berjalan. Meskipun tidak memiliki telinga, belalang dapat mendengar. Alat pendengar pada belalang disebut dengan tympanum dan terletak pada abdomen dekat sayap. Belalang memiliki 5 mata (2 compound eye, dan 3 ocelli). Tipe mulut larva dan imagonya sama-sama menggigit dan mengunyah. Tipe perkembangan hidupnya mengalami metamorfosis tidak sempurna (paurometabola) yang melewati stadia telur-nimfa-imago (dewasa). Cara pengendalian yang dapat dilakukan dengan pengendalian secara mekanis, yaitu mengambil telur belalang didalam tanah dan nimfanya diberikan kepada ayam. Pengendalian secara biologis dengan merawat kumbang endol dan pengendalian secara kultur teknis dengan pengaturan penanganan (Sudarmo, 2000).
3)     
Antenaa
Kepik (Nezara viridula)
Torak
Kaki
Kepala
                     
Gambar 3. Kepik dan Bagian-bagiannya
Sumber : wikipedia

Padaa umumnya kepik memiliki dua pasang sayap (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal ( basal ) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra . Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan.
Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antena, mata facet dan occeli. Tipe alat mulut nimfa dan imago sama yaitu menusuk mengisap.
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia telur - nimfa - dewasa. Bentuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya. Adapun cara pengendalian dari serangga ini dengan melakukan penanaman serempak dalam waktu sepuluh hari, pergiliran tanaman bukan inang, menjaga kebersihan lahan dari tanaman pengganggu atau gulma, dan pengumpulan kepik dewasa atau nimfa untuk di musnahkan (Arief, 1994).
4)      Kutu daun (Aphis .sp)
Kepala
Dada
Kaki
Kepala
                          
Gambar 4. Kepik dan Bagian-bagiannya
Sumber : wikipedia

Secara umum kutu berukuran antara 1-6 mm, tubuh lunak, berbentuk seperti buah per, pergerakan rendah dan biasanya hidup secara berkoloni (bererombol). Tipe mulut pada larva menyerang atau menghisap. Dan sistem perkembangannya metamorfosis tidak sempurna (paurometabola) yaitu melalui stadia telur-nimfa-dewasa. Kutu daun dapat dikendalikan tanpa menggunakan bahan kimia. Beberapa metode populer yang digunakan untuk membasmi kutu daun dengan menyemprot tanaman menggunakan air, membuat semprotan cabean menggunakan predator alami.

5)      Lalat buah (Dacus .sp)
Abdomen
Kepala
Sayap
Kaki
Mulut
                         
Gambar 5. Lalat Buah dan Bagian-bagiannya
Sumber : wikipedia.

Lalat buah mempunyai panjang tubuh sekitar 3 sampai 4 mm, tubuhnya berwarna kuning kecoklatan. Serangga ini bersayap dua. Dua buah sayap belakangnya berubah menjadi bulatan (halter) yang berfungsi sebagai alat keseimbangan sewaktu terbang. Tipe alat mulut larvanya menggigit mengunyah, sedangkan imagonya menjilat. Tipe perkembangannya mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yang melewati stadia telur-larva-kepompong (pupa)-imago (dewasa). Adapun cara-cara untuk mengendalikan hama lalat buah ini melakukan pergiliran tanaman untuk memutus rantai perkembangan lalat, mengumpulkan semua buah yang terserang dan memusnahkannya, mengendalikan dengan perangkap metil eugenol yang sangat efektif dengan cara memasukkan metil eugenol dalam kapas ke botol bekas air mineral yang telah diolesi minyak goreng, atau diberi air. Lalu digantungkan perangkap di pingir kebun.
6)      Jangkrik (Gryllus mitratus)
Perut
Antena
Sayap
Kaki
Kepala
Mulut
                 
Gambar 6. Jangkrik dan Bagian-bagiannya
Sumber : Dokumentasi pribadi.

Jangkrik dikenal sebagai pemakan tumbuhan. Anggota dari ordo ini umumnya memiliki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina . Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain memiliki dua buah mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana. Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum . Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen. Serangga ini memiliki metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur - nimfa - dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya. Cara pengendalian dengan penggunaan lampu atau door pada malam hari, biasanya jangkrik akan berdatangan, kemudian menangkapnya.
7)     
Antena
Walang sangit (Leptocorisa acuta)
Kaki
Mulut
Perut
Sayap
                  
Gambar 7. Walang sangit dan bagian-bagiannya
Sumber : wikipedia

Walang sangit selain menyerang tananamn padi yang sudah bermalai dapat pula berkembang pada rumput-rumputan. Tipe mulut nimfa dan imagonya adalah menusuk-menghisap. Sedangkan hama ini mengalami metamorfosa yang sederhana, yaitu paurometabola melalui stadia telur-nimfa–imago (dewasa). Serangan walang sangit dapat dikendalikan dengan melakukan penanaman serempak, menggunakan perangkap keong yang dibusukkan, pemanfaatan asap, dan penggunaan kapur barus.


8)      Larva/Uret Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros)
Kepala
 
Abdomen
Mulut
Kaki
                         
Gambar 8. Larva/Uret Kumbang Kelapa dan bagian-bagiannya
Sumber : Wikipedia.

Pada umumnya larva dari kumbang kelapa ini berwarna putih susu dan setelah dewasa berwarna putih kekuningan berbentuk huruf C seperti melengkung, warna bagian ekornya agak gelap dengan panjang 7-10 cm. Tubuh bagian belakang lebih besar dari bagian depan. Pada permukaan tubuh larva terdapat bulu-bulu pendek, dan pada bagian ekor bulu-bulu tersebut tumbuh lebih rapat, memiliki kepala berwarna coklat kehitaman. Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda). Metamorfosis bertipe holometabola (sempurna) yang perkembangannya melalui stadia telur-larva-kepompong. Pada awalnya telur diletakkan pada bagian-bagian batang tanaman yang sudah lapuk, kemudian telur tersebut berubah menjadi imago, dan dari imago kemudian menjadi kumbang dewasa yang menyerang tanaman kelapa. Pengendalian yang dapat dilakukan dengan pengutipan larva dan pemanfaatan musuh alami seperti Santalus parallelus yang merupakan predator telur dan larva (Wikipedia, 2014).
9)      Larva (Plutella xylostella)

Abdomen
Kepala
                
Gambar 9. Larva dan bagian-bagiannya
Sumber : wikipedia
Larva Plutella xylostella memiliki tipe alat mulut penggigit, umumnya mudah dibedakan dengan larva serangga hama lainnya karena larva ini tidak mempunyai garis membujur pada tubuhnya. Larva terdiri atas empat instar. Ukuran larva instar keempat 10-12 mm. Tubuhnya berwarna hijau muda terdapat bulu hitam tipis. Apabila disentuh larva bereaksi ganas, menjatuhkan diri dan membentuk benang sutera. Pupa terletak pada daun atau batang, seperti jalinan benang berwarna putih sehingga nampak seperti kumparan benang. Ketika larva (ulat) muda menetas dari telur, maka larva akan mulai untuk menyerang tanaman dengan cara mengorok selama 2-3 hari. Tipe perkembangan dari serangga ini secara holometabola (sempurna) melalui stadia telur – larva - kepompong-dewasa. Cara pengendalian yang dapat dilakukan dengan melakukan pergiliran tanaman, pembalikan tanah lokasi tanaman, pengeringan lahan, memusnahkan ulat, serangga dewasa, maupun telur yang menempel pada tanaman, dan membuang tanaman yang sudah terserang,
10) 
Antena
Ngengat/imago (Plutella xylostella)
Mulut
Kaki
Sayap
Kepalaa
                     
Gambar 10. Ngengat/imago dan bagian-bagiannya
Sumber : Wikipedia.

Ngengat terdiri dari dua pasang. Seranngga dari sayap ini terdiri dari sisik-sisik kecil yang akan menempel bila dipegang. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut bertipe mengisap menusuk pada imago, sedangkan pada larvanya menggigit mengunyah. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta. Dari tipe serangga ini hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama , namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar. Metamorfosisnya bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia telur – larva - kepompong -dewasa. Beberapa cara pengendalian yang dapat dilakukan dengan sistem kondomisasi, yaitu dengan menyelubungi bagian yang diserang  dengan bungkus plastik yang bagian bawahnya tetap terbuka.


IV. PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa pada filum arthropoda terdapat enam ordo yang bertindak sebagai hama serangga yaitu, orthoptera, hemiptera, homoptera, diptera, lopideptera, dan coloeptera. Keenam ordo ini dapat dibedakan berdasarkan sayap, dada, perut, dan kaki. Tipe perkembangan yang dimiliki ada yang bersifat metamorfosis sempurna dan tidak sempurna. Tipe alat mulut yang dimiliki ada yang menggigit mengunyah, menusuk mengisap, menyerang atau mengisap, dan menjilat.

4.2. Saran
Saran yang saya berikan ada baiknya pengenalan ordo-ordo serangga dilakukan pada serangga yang menyerang tanaman palawija, karena setidaknya tanaman palawija lebih mudah terserang dibanding tanaman tahunan sehingga dapat dilakukan pengendalian secara alami pada penelitian-penelitian sederhana.
DAFTAR PUSTAKA

Arief, arifin. 1994. Perlindungan Tanaman Hama Penyakit dan Gulma. Usaha                                                                                             Nasional. Surabaya.

Hartati, 2009. Laporan Praktikum Zoologi. http:// biologi-staincrb.web.id. Di akses            pada    tanggal            16            April    2014.

Permana. Yoga, 2012. http://yogadpermana.wordpress.com/2014/04/16/ entomologi-pertanian-serangga-sebagai-hama/. Diakses pada tanggal 16 April 2014.

Rioardi, 2009. Ordo-Ordo Serangga. http://rioardi.wordpress.com. Di akses pada tanggal 19 April 2012.

Sumangun H. 2000. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia.
Gajah
   Mada   University       Press,   Yogyakarta.

Sudarmo, subiyakto. 1995. Pengendalian Hama dan Gulma Pada Tanaman Perkebunan. Kanius.Yogyakarta.

Tim opt, Penuntun Organisme Pengganggu Tumbuhan, Fakultas Pertanian Unpar (Palangka raya, 2013).

Wikipedia. Homoptera. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Homoptera. Di akses pada tanggal 16 April 2014.

Wikipedia. Larva kumbang kelapa. 2014 . diakses pada tangga 18 April 2014





Tidak ada komentar:

Posting Komentar